MINDFULNESS : BENTUK PENGINGAT UNTUK HARUS TIDAK PEDULI ?!

SobatMinkia, baru baru ini dunia internet di hebohkan dengan maraknya video youtube Maudy Ayunda. Seorang publik figur yang saat ini menjalani pendidikan S2 nya di Kampus bergengsi yaitu Stanford University. Maudy sedang menjadi bahan samsak netizen pasal video yang kembali ramai di upload pada Agustus lalu di kanal Youtube tentang minfulness in the edge of bad news.

Banyak orang berspekulasi negatif karena video yang disampaikan dinilai tidak mencerminkan empati pada saudara saudari kita di Indonesia yang sedang berjuang dengan apa yang tejadi akhir akhir ini. Nah, pada video tersebut Maudy menjelaskan tentang cara diri untuk menanamkan sikap mindfulness di kala segala keriwehan kita pada kehidupan.

Lantas bagaimana kamu melihat cara pandang menjadi sikap mindfulness? Bagaimana wujud esensialnya, mengapa cara yang bagus untuk self care malah berimbas dengan ketidak-pedulian kita pada sesama. Lihat selengkapnya disini !

Baca juga : KERACUNAN MAKANAN INI BISA BIKIN AMNESIA? TERNYATA ADA PENJELASANNYA. YUK SIMAK

Apa Itu Mindfulness?

Secara harfiah mindfulness adalah konsep self care, seni menjaga diri sendiri. Jika dirincikan mindfulness adalah praktik melatih kesadaran untuk benar benar memperhatikan apa yang terjadi saat ini, baik pikiran, perasaan, maupun lingkaran sekitar tanpa terburu buru menghakiminya.

Praktik mindfulness adalah dengan melatih kembali pikiran secara perlahan untuk fokus pada momen saat ini. Hal ini juga mengembangkan kemampuan untuk sadar dan memberi perhatian penuh pada momen sekarang daripada harus melihat masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan.

Bahaya Doomscrolling

Perkembangan teknologi membuat informasi kian mencuat. Media sosial, berita, video pendek, dan berbagai informasi membuat perhatian kita terus berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Dalam kondisi seperti ini seseorang bisa mengalami kebiasaan doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir media sosial atau berita secara terus menerus, terutama konten negatif, konflik atau mengkhawatirkan, meskipun aktivitas tersebut membuat cemas, lelah, atau tidak nyaman.

Membaca berita buruk kerap kali menimbulkan perasaan cemas dan ketakutan. Meski membuat cemas, pelaku doomscrolling tidak berhenti dan justru semakin penasaran serta mencari tahu lebih banyak tentang informasi tersebut. Jika dibiarkan kebiasaan ini, bisa berdampak buruk terhadap kesehatan baik mental maupun fisik.

Disamping itu, gangguan doomscrolling diketahui juga lebih berisiko dialami seseorang yang mengalami gangguan mental tertentu , seperti gangguan kecemasan, gangguan panik, PTSD, OCD, dan fobia sosial.

Apakah Mindfulness Mengajak Berhenti Peduli?

Menjauhi segala hal berbentuk berita buruk itu sangat diharuskan, supaya kita tak mudah terkontaminasi pada hal yang bukan di ranah kita. Lantas mindfulness membentuk kepedulian lebih atau justru jalan untuk menjauhi?

Sejatinya, mindfulness bukan menghilangkan kemarahan. Kita boleh marah terhadap ketidakadilan. Kita boleh kesal kepada berita berita yang buruk. Bahkan kemarahan publik justru diperlukan untuk dapat mendorong perubahan.

Mindfulness dapat membantu kita menetukan respon dengan sadar. Marah dalam kendali, itulah yang diharapkan. Jangan sampai kemarahan kita justru hasil dari rekayasa, lalu digunakan untuk kepentingan yang tidak pernah kita sadari.

Tone deaf vs Mindfulness

Nah pada persoalan ini, video Maudy menimbulkan banyak spekulasi di ruang publik. Salahsatu keguncangan informatif pada video Maudy tersebut yaitu, sikap tone deaf yang dibungkus dengan mindfulness. Tone deaf adalah istilah modern yang secara harfiah berarti tuli nada. Namun ketika mengacu pada konteks media sosial, tone deaf adalah seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk peka terhadap perasaan orang lain.

Hati hati SobatMinkia, terkadang gejala tone deaf berada di sekitar kita. Contohnya saat seseorang memberikan komentar atau postingan yang berhubungan dengan isu sosial, politik, atau budaya yang sedang ramai di media sosial. Orang orang yang dinilai tone deaf cenderung akan membuat lelucon atau terlihat meremehkan isu isu yang sedang ramai tersebut.

Dua Kebenaran yang Harus Ber-iringan

SobatMinkia, sampailah kita pada inti persoalannya. Bahwa terdapat dua kebenaran yang sebenarnya tidak perlu di pertentangkan.

Pertama, manusia memang tidak bisa terus menerus terpapar berita buruk. Ada batas yang harus di terima tubuh dalam menerima informasi dan tekanan sosial. Menjaga diri agar tidak tenggelam dalam arus informasi tersebut merupakan bentuk self care yang harus dipertahankan.

Kedua, kepedulian pada sesama adalah bentuk bahwa kita hidup selalu membutuhkan orang lainnya dalam berkembang. Statement seperti tone deaf adalah sifat yang tidak boleh ada pada setiap individu. Ketika kamu merasa kurang pada kepekaan diri, baiknya selalu menemukan empati. Tempatkan dirimu pada perasaan orang lain, dan cobalah untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Jadilah pendengar yang baik tanpa harus judge perbuatannya.

Kita membutuhkan kemampuan untuk mengelola emosi tanpa kehilangan kepekaan. Kita juga membutuhkan kepedulian tanpa membiarkan emosi mengendalikan seluruh responsibilitas. Pada akhirnya itulah dua kebenaran yang harus hidup bersamaan.

***

BIMBINGAN KONSULTASI BELAJAR ADZKIA

  • Bimbel Super Intensif UTBK SNBT
  • Bimbel Kedokteran
  • Bimbel Persiapan Ujian Mandiri

Jalan Hayam Wuruk No. 15 AB Medan, Sumatera Utara

Mobile Phone Or WhatsApp: 08116714445

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted