KILAS BALIK GUNUNG KRAKATAU : DARI LETUSAN DAHSYAT 1883 HINGGA LAHIRNYA ANAK KRAKATAU

Perkenalkan, inilah dia Krakatau. Sebuah gunung yang merupakan bagian dari rangkaian gunung berapi yang terbentuk dari pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia. Per hari ini 10 setember 2026 anak Krakatau menjadi kawasan yang cukup serius, level siaga sudah diinfokan oleh BMKG bahwa situasi sedang tidak baik baik saja.

Krakatau, adalah nama sebuah gunung berapi yang begitu menggema di benak masyarakat Indonesia. Dampak dahsyat letusan Krakatau 132 tahun yang lalu menjadi cerita turun temurun yang begitu fenomenal bagi masyarakat Indonesia. Kala itu, bencana meletusnya Gunung Krakatau menjadi catatan bencana gunung meletus terbesar dan paling mematikan sepanjang sejarah peradaban modern manusia.

Berikut Minkia kasi tau gimana seramnya peristiwa alam seperti Krakatau yang konon katanya wilayah di luar Indonesia merasakan seperti perubahan iklim dan lain lainnya. Penasaran sama kelanjutannya? yuk simak.

Baca Juga : BIAR GAK DIKATAIN MAHASISWA KUPU – KUPU. COBA TEMUKAN AKTIVITAS INI DI KAMPUS

1883 Sebelum Bencana

Semula berawal dari sebuah gunung purba yang memiliki ketinggian 2000 mdpl dengan lingkaran pantainya sekitar 11 km dan radius sekitar 9 km, dengan nama Krakatau. Namun ledakan dahsyat terjadi sekitar 416M, telah menghancurkan tiga seperempat tubuh gunung dan menyisakan tiga pulau besar, yaitu Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang, serta sebuah Kaldera ditengah ketiga pulau tersebut.

Sebelum tahun 1883 muncullah 2 gugusan gunung yang bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan. Seiring berjalannya waktu lama kelamaan kedua gunung tersebut menyatu dengan Pulau Rakata dan biasa disebut Gunung Krakatau. Pada tahun 1880 yang disebut masa strombolian, terjadinya aktivitas vulkanis yang berlangsung selama beberapa bulan sampai Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava. Setelah periode itu tidak ada lagi aktivitas vulkanis terjadi sampai pada bulan Mei 1883, munculnya tanda akan adanya letusan.

Ketika Krakatau Meletus

27 Agustus 1883 meletusnya gunung Krakatau, menurut catatan sejarah yang hingga kini selalu jadi historikal pariwisata di Lampung, meletusnya Gunung Krakatau sangatlah dahsyat hingga menggemparkan dunia. Semburan lahar dan abunya mencapai ketinggian 80 km, sampai abunya mengelilingi bumi selama beberapa tahun. Suara ledakan Krakatau bahkan terdengar hingga ribuan kilometer dari lokasi letusan. Bahkan gelombang tekanan atmosfer yang dihasilkan bisa mengelilingi planet beberapa kali.

Letusan gunungnya bisa menghasilkan debu hebat yang mampu menembus jarak hingga 90 km dan letusannya juga berdampak terjadinya gelombang laut setinggi 40 m vertikal. Korban pada peristiwa ini mencapai 36.000 jiwa di 165 desa baik di Lampung Selatan maupun di Jawa Barat. Akibat letusan dahsyat itu, Gunung Danan dan Perbuwatan harus lenyap dari bumi dan menyisakan 3 pulau yaitu Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata besar, serta sebuah Kaldera yang terletak di tengah ketiga pulau berdiamater 7 km.  

Dampaknya ke Belahan Dunia

Berbulan bulan setelah Krakatau meletus, masyarakat di Eropa dan Amerika menyaksikan fenomena langit yang tidak biasa. Matahari tampak berwarna merah menyala terkadang disertai warna hijau dan ungu ketika terbenam, sementara bulan terlihat berwarna kebiruan. Fenomena tersebut merupakan salah satu efek dari material vulkanik yang menyebar tinggi ke atmosfer dan mengelilingi bumi.   

Dampak krakatau tidak berhenti pada perubahan warna langit. Peristiwa ini juga menunjukkan bagaimana sebuah letusan di Indonesia dapat mempengaruhi dampak iklim dalam skala global. Aerosol vulkanik yang mencapai atmosfer membantu memantulkan sebagian radiasi matahari kembali ke angkasa, yang mengakibatkan suhu rata – rata global dilaporkan turun sekitar 0,5 sampai 0,6 derajat celcius.

Munculnya Anak Krakatau

Empat puluh tahun kemudian keajaiban baru terjadi. Sekitar tahun 1927 para nelayan yang melaut di Selat Sunda menemukan kejanggalan. Kepulan asap hitam ditemukan di permukaan laut dan menyembul seketika diantara 3 pulau kawasan Krakatau, tepatnya di kaldera bekas letusan sebelumnya.

2 tahun berselang setelah kejadian itu, tepatnya pada tanggal 29 Desember 1929 sebuah dinding kawah muncul ke permukaan laut yang juga sebagai sumber erupsi kala itu. 2 tahun berselang dari misteri kepulan asap, muncullah wujud aneh yang makin hari makin jelas yang pada akhirnya disebutkan bahwa itu anak Krakatau.

Tidak sampai situ, Anak Krakatau memiliki ciri khas unik seperti selalu menambahkan ketinggian sekitar satu centi setiap harinya . Anak Krakatau yang semula hanya beberapa meter saja, sekarang ketinggiannya mencapai 230 mdpl sejak munculnya di tahun 1927.

Anak Krakatau dan Aktivitas Vulkanik Modern

Setelah letusan besar Krakatau pada 1883, kawasan Selat Sunda tidak benar benar berhenti menunjukkan aktivitas vulkanik. Pada 1927, muncul gunung api baru dari kawasan bekas Krakatau yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Anak krakatau terus tumbuh karena aktivitas erupsi yang berulang. Kemunculannya menjadi bukti bahwa kawasan tersebut masih memiliki sistem vulkanif yang aktif.

Salah satu peristiwa paling besar dalam sejarah modern terjadi pada 22 Desember 2018. Aktivitas erupsi menyebabkan sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut dan memicu tsunami di pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa bahaya gunung api di Indonesia tidak hanya berasal dari lava dan abu, tetapi juga dapat berkaitan dengan longsoran tubuh gunung dan tsunami.

***

BIMBINGAN KONSULTASI BELAJAR ADZKIA

  • Bimbel Super Intensif UTBK SNBT
  • Bimbel Kedokteran
  • Bimbel Persiapan Ujian Mandiri

Jalan Hayam Wuruk No. 15 AB Medan, Sumatera Utara

Mobile Phone Or WhatsApp: 08116714445

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted