SISTEM TINGGAL KELAS BALIK LAGI : SEBUAH MOTIVASI ATAU BIKIN NAMBAH FRUSTASI?

Pernah gak kamu denger celetukan di kelas ” duh, ngapain capek belajar mati matian, toh ujung ujungnya bakal naik kelas kok.”

Fenomena ini sempat jadi rahasia umum selama beberapa tahun terakhir. Sistem naik kelas terasa bagai jalanan tol kosong yang bisa ngebut tiap hari, tapi bikin dinamika belajar jadi datar. Namun, angin segar sekaligus angin kencang kembali bertiup beriringan dari ranah regulasi pendidikan.

Ketika bicara tentang kualitas pendidikan siswa yang harus disiplin demi menaikkan taraf kualitas kognitif, ada sebuah bentuk karakter yang kadang kali terabaikan pada keseharian. Tentang mental yang kambuh kambuhan, academic burnout, yang seakan menghantui kepala kita pada setiap saat. Jadi, sebenarnya kebijakan ini jawaban atas krisis mutu belajar atau justru bom waktu buat kesehatan mental murid?

Baca Juga : THE POWER OF PAKET C : SOLUSI AMPUH UNTUK KEJAR KETINGGALAN PEAJARAN SMA

Kenapa Sistem ‘Auto Pass’ Perlu di Reset?

Sejujurnya, menurut Minkia sistem naik kelas otomatis yang berjalan selama ini punya sisi kurang kondusif untuk tetap dijalankan. Perlahan kita tak melihat lagi kompetitif dari sebuah kelas yang mempertahankan kerja kerasnya supaya bisa mendapatkan rangking. Semangat kompetitif murid perlahan lahan luntur, prinsip rajin malas sama aja bikin atmosfer kelas jadi kurang menantang.

Pondasi materi juga ketinggalan, seakan memaksa murid untuk yang belum paham materi dasar langsung naik ke jenjang berikutnya. Ibarat menyuruh orang berlari tanpa bisa berjalan. Hasilnya, murid akan stres di kelas baru, karena makin gak paham dengan materi yang lebih kompleks.

Penilaian yang tegas dan objektif adalah sebuah bentuk apresiasi buat kamu yang tiap hari konsisten belajar dan menjaga sikap selama satu tahun ajaran. Ini adalah keadilan buat yang gak pernah berhenti berjuang.

Ancaman Burnout & Stigma Sosial

Dibalik misi merapikan mutu pendidikan yang lebih baik, ada kekhawatiran nyata yang gak bisa dianggap enteng. Stigma “anak gagal” di Indonesia masih tak kunjung hilang pada paradigma masyarakat. Budaya kita masih gampang menghakimi orang orang yang butuh perhatian khusus, padahal penyebab ketinggalan kelas bisa sangat kompleks.

Bayangan harus berpisah dari kawan seangkatan dan mengulang kembali materi dari awal bisa memicu kecemasan hebat. Kalau tidak diimbangi dampingan khusus yang oke dari sekolah, murid bukannya semangat tapi justru mengalami burnout hingga resiko putus sekolah.

Penguasaan Kompetensi yang Mendukung

2027 mendatang akan menjadi arah baru bagi dunia pendidikan, terkhusus para pelajar dari tingkat SD sampai SMA. Wacana dari Kementrian Pendidikan atas kembalinya sistem tinggal kelas yang masih tahap kaji ulang pada programnya.

Wacana ini juga menimbulkan pertanyaan lain yang tak kalah penting bagi keberlangsungan kualitas kognitif pelajar. Jika hanya mengandalkan sanksi akademik saja tanpa memahami kesulitan yang dialami siswa.

Dilansir dari artikel Good News Forum Indonesia, menurut Dosen Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora Univ Muhammadiyah Malang, Erna Yayuk. Keberhasilan pelajar harusnya diukur dari penguasaan kompetensi siswa, bukan hanya dari nilai rapor atau status kenaikan kelas saja.

Menurutnya, Siswa yang tinggal kelas bukan berarti memiliki kemampuan yang lebih rendah daripada pelajar yang naik kelas. Begitu pula nilai rapor yang rendah, belum tentu menggambarkan kemampuan siswa secara menyeluruh.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar mereka. Mulai dari kondisi keluarga, keterbatasan ekonomi, hingga kurangnya figur pendamping di rumah. Karena itu, sekolah juga harus mengevaluasi lebih jauh ketika siswa mengalami kesulitan belajar.

Gimana Menurut Kamu?

Kembalinya sistem tidak naik kelas ini membawa iklim baru pada dunia sekolah. Di satu sisi, inilah langkah taktis untuk memperbaiki kualitas anak agar lebih disiplin dan lebih aware pada kegiatan akademiknya. Di sisi lain, kesehatan mental dan kebutuhan belajar juga perlu diperhatikan dalam membangun ruang akademik yang optimal.

Pada akhirnya, tinggal kelas bukanlah end of story untukmu yang ingin berjuang, melainkan kesempatan buat memperbaiki pondasi sebelum melangkah lebih jauh.

Apakah aturan baru ini makin memotivasi kamu buat berkembang, atau justru bikin anxiety kamu makin meriang?

***

BIMBINGAN KONSULTASI BELAJAR ADZKIA

  • Bimbel Super Intensif UTBK SNBT
  • Bimbel Kedokteran
  • Bimbel Persiapan Ujian Mandiri

Jalan Hayam Wuruk No. 15 AB Medan, Sumatera Utara

Mobile Phone Or WhatsApp: 08116714445

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted