LEMOT BUKAN BERARTI TIDAK PINTAR, BISA JADI GEJALA DISLEKSIA

Pernah gak punya temen yang baca tu lama banget? kadang ejaan aja perlu waktu untuk bisa uraikannya. Atau jika dia menulis, terkadang salah menempatkan huruf di sebuah kata. Nah, jika kamu menemukannya atau kamu salah satu dari mereka, boleh jadi itu sebuah kelainan pada kognitif yang tidak bisa kamu kontrol. Kelainan itu disebut Disleksia.

Disleksia dapat membuat seseorang menyebabkan keterbatasan paham dalam membaca dan menulis. seseorang yang punya disleksia cendurung membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali kata, membaca dengan lancar, mengeja, atau menghubungkan huruf dengan bunyinya.

Oleh karena itu, cara belajarnya juga tidak bisa disamakan dengan kemampuan anak normal. Tapi itu bukan berarti alasan untuk selalu menyerah pada keadaan, kamu hanya belum tahu cara menanggulanginya. yuk simak disini!

Baca Juga : KETIKA RUMAH MENJADI SEKOLAH, MENGAPA HOMESCHOOLING MULAI DILIRIK?

Apa Itu Disleksia?

Disleksia adalah gangguan belajar yang menyebabkan masalah pada membaca, menulis, dan mengeja. Gangguan ini masuk kedalam saraf pada batang otak, bagian otak yang memproses bahasa.

Seorang anak dengan disleksia tetap dapat memiliki kemampuan yang baik dalam bidang lain. Tantangannya adalah bagaimana lingkungan belajar dapat memberikan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dalam pendidikan inklusif, hambatan belajar tidak hanya dilihat dari kondisi anak, tetapi juga apakah lingkungan pendidikan mampu memberi dukungan yang sesuai. Lembaga kemanusiaan seperti UNICEF menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif agar anak dengan disabilitas memperoleh kesempatan belajar dan berkembang secara setara.

Penyebab Terjadinya Disleksia

Penyebab disleksia biasanya terjadi pada faktor genetik. Seseorang akan mungkin terjangkit disleksia jika memiliki orangtua, saudara kandung, atau keluarga lain yang juga mengidap disleksia.

Kondisi ini bermula dari perbedaan bagian otak yang memproses bahasa. Pemindaian otak menunjukkan bahwa pada orang disleksia, bagian otak yang harusnya aktif saat membaca tidak bekerja dengan baik.

Ketika seorang anak membaca, hal yang pertama mereka cari adalah bunyi apa yang dihasilkan pada huruf tersebut. Misalnya, huruf “B” yang dihasilkan oleh suara adalah, “be”. Huruf “M”, yang dihasilkan oleh suara “em”.  

Kemudian, mereka belajar bagaimana menyusun suara – suara itu menjadi susunan huruf menjadi kata, seperti K-U-C-I-N-G yang berarti kucing. Kemudian mereka juga harus mencari tau dan membayangkan kata seperti kata ‘kucing’ tadi adalah sebuah hewan berbulu dan mengeong. 

Hal tersebut terlihat mudah karna kita memahaminya. Tapi untuk anak penderita disleksia, itu sebuah rintangan yang harus diselesaikan. Otak mereka sulit untuk menghubungkan huruf dengan suara yang mereka buat, kemudian memadukan semua itu menjadi kata – kata.

Jadi bagi seorang disleksia kata ‘kucing’ mungkin akan terbaca ‘gnicuk’. Karena campur aduk ini, proses membaca, menulis, ataupun mengeja sangatlah membutuhkan waktu bagi mereka.

Fakta Tentang Disleksia

Disleksia pertama kali diidentifikasi oleh Dokter Berkhan, seorang psikiater, dan neurolog asal Jerman pada tahun 1881. Pemberian nama ‘ disleksia’ diberikan oleh seorang dokter spesialis mata bernama Rudolph Berlin, enam tahun setelah gangguan ini ditemukan.

Setelah itu dileksia di dikte menjadi sebuah gangguan internasional yang mulai di besarkan berkat pertemuan kelompok Riset Federasi Neurologi Dunia, bertajuk “ Disleksia Perkembangan dan Buta Aksara Dunia”. Yang di selenggarakan pada bulan april 1968 di Rumah Sakit Dallas, Amerika Serikat.

Disleksia juga mempunyai hari peringatannya pada tanggal 8 Oktober. Jadi setiap bulan Oktober diperingati sebagai Bulan Kesadaran Disleksia ( Dyslexia Awareness Month). Peringatan ini juga untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisi disleksia.

Mengapa Disleksia Sering Disalahpahami?

Salah satu masalah yang dialami anak karena kesulitan belajar yaitu sebuah stigma. anak yang membaca lebih lambat membaca, tidak memperhatikan pelajaran, atau tidak berusaha menangkap ilmu disebut malas. Padahal kesulitan belajar membutuhkan pendekatan yang berbeda beda, bukan hanya tuntutan harus belajar lebih keras.

Cahyo Setiadi Ramadhan selaku dosen dari Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mendalami bidang psikologi dan konseling Islam, mengatakan kurangnya informasi menjadi salah satu faktor munculnya stigma terhadap anak penderita disleksia.

“ Anak dengan disleksia dapat bermain dan beraktivitas seperti anak anak lainnya. Namun, ketika mengalami kesulitan membaca atau berhitung, kondisi tersebut mudah disalahartikan sebagai kemalasan untuk belajar. Kesalahpahaman seperti itu muncul karena pengetahuan masyarakat mengenai disleksia belum merata, kata Cahyo.

Disleksia Bukan Atasan Untuk Berkembang

Pada akhirnya, disleksia mengingatkan kita bahwa setiap orang tidak selalu memproses informasi dengan cara yang sama. Ada yang cepat membaca, ada yang perlu mengulang, ada yang lebih kuat memahami gambar, dan semuanya tetap punya kesempatan untuk berkembang.

Jadi, sebelum bilang seseorang lemot karena membaca lebih lambat, mungkin kita perlu berhenti sebentar dan bertanya, apakah dia memang tidak mampu atau sebenarnya kita yang belum tahu cara belajarnya?

***

BIMBINGAN KONSULTASI BELAJAR ADZKIA

  • Bimbel Super Intensif UTBK SNBT
  • Bimbel Kedokteran
  • Bimbel Persiapan Ujian Mandiri

Jalan Hayam Wuruk No. 15 AB Medan, Sumatera Utara

Mobile Phone Or WhatsApp: 08116714445

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted