Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus tahun 1945 adalah tanda awal perjuangan Indonesia pada peradaban yang keluar dari zaman penindasan. Peristiwa ini juga punya kejadian unik lo pada 3 hari sebelum di sah kannya proklamasi.
Salah satu babak penting dalam perjalanan Indonesia menuju merdeka ialah periode 3 setengah tahun masa kependudukan jepang ( 1942 – 1945). Nampaknya singkat, tapi banyak perubahan signifikan bagi perjalanan republik. Masa kependudukan yang singkat ini juga yang menjadi titik balik dari beberapa peristiwa penting republik ini menjadi sebuah negara yang diakui khalayak.
3,5 tahun kekuasaan yang di daulati Jepang akhirnya runtuh, dan di era kekosongan itu terdapat suara revolusi dari para aktivis muda Indonesia yang ingin merdeka. Ada sebuah kejadian penting di 3 hari sebelum proklamasi kemerdekaan di ikrarkan. Mau tau apa saja kejadiannya? Simak selengkapnya disini.
Baca Juga : BIKIN BANGGA. MAHASISWA INI MENYELAMATKAN 300 RIBU JIWA MASYARAKAT DENGAN BICARA
3,5 Tahun Kekuasaan Jepang
Sebelum kita membahas 3 hari sebelum hari bersejarah, tentu kamu harus tahu dibalik skenario epik yang terjadi pra kejadian ikrar proklamasi. Kejadian ini dipicu oleh masuknya Jepang ke Indonesia pada 27 Desember 1941 setelah berhasil menguasai wilayah Kepulauan Tambelan di sekitar laut Cina Selatan. Dilanjutkan dengan 2 pekan selanjutnya, mereka menginvasi Tarakan dan Manado, dua wilayah yang membuat Belanda tak berkutik karena serangan cepat dari Jepang.
Pada tahun berikutnya di tanggal 24 Januari 1942 Jepang makin memperluas wilayahnya dimulai dari Balikpapan, Ambon, Makassar, dan juga Palembang bersamaan dengan jatuhnya Singapura. Dengan demikian, daerah kaya minyak seperti di Kalimantan dan Sumatera telah dikuasai semuanya oleh Jepang. Â
Pada tahun berikutnya, kehidupan di Republik ini sangat dibatasi dan cenderung ketat karena kepemimpinan Jepang yang memiliterisasi peraturan. Tak ayal pula propaganda dibuat dari bentuk pendidikan ke sekolah sekolah, bahasa dan simbol Jepang mulai digunakan dalam berbagai aspek kehidupan.
Romusha adalah salah satu aspek betapa kejamnya Jepang menduduki negeri ini. Disamping itu, proses pendidikan para era Jepang tetap menjunjung tinggi bahasa lokal Indonesia. Hal ini juga yang membuat identitas negara perlahan menjadi kuat. Ditambah lagi, pembentukan organisasi serta pembekalan militerisasi oleh Jepang ke pemuda pribumi menjadikan cikal bakal perjuangan di tengah tengah runtuhnya Jepang.
Runtuhnya Kedaulatan Jepang
Ketika itu kedaulatan Jepang mulai mengalami banyak kemunduran. Dimulai dari runtuhnya pasukan dari Front Pasifik. Di Juni 1944 kalah lagi pada pertempuran di laut Filipina, sampai kehilangan pangkalan angkatan laut di Saipan ( Kepulauan Mariana ). Akibatnya, terjadilah krisis kabinet negeri, dengan lepasnya Perdana Menteri Tojo (1941 – 1945) lalu digantikan oleh Jenderal Koiso Kuniaki (1944 – 1945).
Kekalahan demi kekalahan terus berlangsung hingga pada puncaknya di pada 6 dan 9 Agustus 1945. Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh sekutu. Peristiwa tersebut menewaskan ratusan ribu warga. Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat pada sekutu pada 14 Agustus 1945.
Akhirnya Jepang mengumumkan kekalahan secara telak yang menandai terjadinya kekosongan kekuasaan di Indonesia. Di satu sisi, sekutu pemenang perang dan penguasa baru di wilayah jajahan tak kunjung datang. Dan di sisi lain, Jepang yang ada di wilayah republik sudah tak ada lagi wewenang serta semangat untuk melakukan kependudukan.
Langkah Awal Kemerdekaan
Langkah menuju kemerdekaan sudah pernah di inisiasikan oleh Perdana Menteri Jepang, Kuniako Koiso, di Tokyo pada September 1944. Yang menyatakan bahwa Dai Nippon memberi izin bagi Indonesia untuk merdeka di kemudian hari. Tindak lanjut janji tersebut di realisasikan pada 1 Maret 1945 ketika panglima tentara Jepang Kumakichi Harada membentuk BPUPKI.
Setelah dinilai tugasnya selesai, BPUPKI dibubarkan lalu digantikan Pantia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai langsung oleh Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai wakil.
Beberapa hari sebelum Proklamasi, Soekarno, Moh Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat pergi ke Vietnam untuk menjumpai Panglima Tertinggi Jepang di Asia Tenggara, Marsekal Hisaichi Terauchi. Pada tanggal 12 Agustus 1945, Marsekal Terauchi menyampaikan keputusan Pemerintah Jepang untuk memberikan kemerdekaan pada Indonesia pada 24 Agusutus 1945.
Akan tetapi rencana tersebut tidak dapat terlaksana karena perkembengan yang cukup cepat pada situasi Perang dunia II yang membuat posisi Militer Jepang melemah sehingga tidak dapat lagi mengendalikan dinamika politik Indonesia.
3 Hari Penentuan
3 hari sebelum diikrarkannya proklamasi adalah babak penting pada era kemerdekaan. Dimulai dari perubahan peta politik secara drastis yang terjadi ketika Jepang mendapat deklarasi postdam dan menyatakan menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945.
Kemudian dinamika antara kelompok pemuda dan kelompok tua yang membuat cerita kemerdekaan masih alot walaupun sudah tidak ada figur Jepang yang memegang kendali pada pemerintahan Indonesia. 15 Agustus 1945 adalah hari yang sangat serius pada diskusi antar 2 kelompok ini. Menurut kelompok pemuda, ini adalah momentum yang pas untuk memproklamasikan kemerdekaan segera tanpa menunggu rapat PPKI dan menilai ini adlaah tindakan bangsa Indonesia, bukan hadiah dari Jepang.
Sementara kelompok tua yang notabenenya adalah anggota dari kelompok PPKI ini menilai harus memperhitungkan potensi bentrokan fisik dengan pasukan militer Jepang yang masih bersenjata lengkap. Pada intinya kesepakatan pada diskusi ini adalah jalan tengah pada rembukan persoalan tanggal merdeka.
Pada tanggal 16 Agustus 1945, kita mengenal peristiwa bersejarah bernama “penculikan ke Rengasdengklok”. Ini adalah inisiasi dari kelompok muda dengan menahan Sukarno dan Hatta beserta keluarganya agar menghindari propaganda Jepang dalam mendeklarasikan kemerdekaan. Dan peristiwa ini dinilai Sukarno sebagai perlawanan murni dari kelompok pemuda agar tidak perlu keputusan Jepang dalam menggapai kemerdekaan.
17 Agustus 1945, peristiwa epik pada peradaban Indonesia. Dengan dimulai pada pelepasan Sukarno Hatta di Rengasdengklok atas inisiasi Ahmad Subarjo ( anggota kelompok tua) melalui diskusi pada beberapa kelompok muda. Perisitiwa ini juga merupakan sikap keberanian pada kelompok tua bahwa sebuah tekad besar dimulai dengan mengambil resiko pada kesempatan yang tidak datang dua kali.
Melalui kejadian yang panjang, seperti pembuatan naskah, dinamika yang masih bergelut antara pihak Jepang yang belum menyetujui, dan sebuah perasaan spiritual Sukarno melihat hari seperti ini adalah jalan tuhan yang menunjukkan bahwa entitas negara akan lahir pada 17 Agustus 1945.
BIMBINGAN KONSULTASI BELAJAR ADZKIA
- Bimbel Super Intensif UTBK SNBT
- Bimbel Kedokteran
- Bimbel Persiapan Ujian Mandiri
Jalan Hayam Wuruk No. 15 AB Medan, Sumatera Utara
Mobile Phone Or WhatsApp: 08116714445
