Pengaruh artifial intelligence (AI) pada kehidupan modern ternyata sudah sangat signifikan. Kita selalu dimanjakan oleh sesatu yang instan dan gak perlu ribet mencari sumber informasi. Bahkan semua kebutuhan akademik atau apapun itu bisa dicari dengan AI.
Namun harga yang dibayar juga teramat besar, pasalnya sebuah data center AI mempunyai kapasitas energi yang luar biasa besar. World Economic Forum (WEF) mengungkap, data center berkapasitas 1 megawatt (MW) dapat menghabiskan hingga 25,5 juta liter air per tahun. Jumlah itu sudah cukup untuk konsumsi air perhari sebanyak 300 ribu orang.
SobatMinkia, apakah ini sebuah kemajuan teknologi ataukah sebuah harga yang harus dibayar ketika sebuah ekosistem perlahan dikeruk? seberapa besar dampaknya ketika pemberdayaan data center AI terus berkembang?
Baca juga : PRESIDEN PRABOWO DORONG KULIAH GRATIS DI PTN. UKT BAKAL DIHAPUS?
Konsumsi Energi Meningkat
AI membutuhkan pusat data dengan banyak GPU atau akselerator yang bekerja secara terus menerus. semakin bsar penggunaan AI, semakin banyak pula kebutuhan energi yang dihasilkan untuk proses komputasi dan operasional data center.
Penerapan AI skala besar munculkan masalah pada lingkungan, sebagian server AI disimpan di pusat data (data center) yang menghasilkan limbah elektronik dan dapat mengandung kimia beracun, seperti merkuri dan timbal.
Penggunaan Air untuk Pendinginan
Sebagian data center menggunakan air sebagai sistem pendingin, jumlah air yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit. Setidaknya ada jutaan liter per hari untuk pengoperasian data center, tergantung pada desain fasilitasnya.
Pada tahun 2027, permintaan AI Global akan lebih membutuhkan lebih banyak air. Diperkirakan akan mengkonsumsi sekitar 4,2 – 6,6 miliar meter kubik air pada tahun 2027, melampaui total pengambilan air tahunan Denmark yang sebesar 4 – 6 miliar meter kubik.
Emisi Karbon
Ketidaksadaran kita pada AI ternyata cukup membuat dampak lingkungan yang cukup serius. Langkah praktis penggunaan AI dalam kehidupan sehari hari menjadikan kecerdasan buatan sebagai penyokong terbesar emisi karbon dunia. Dampak emisi sangat bergantung pada sumber listrik yang digunakan. Jika listrik berasal dari pembangkit berbasis bahan bakar fosil, konsumsi listrik untuk AI dapat meningkatkan emisi karbon.
Bahkan untuk menghasilkan gambar dari AI generatif, emisi karbon yang dihasilkan setara dengan penggunaan mobil setelah menempuh jarak -+ 7 kilometer. Sedangkan penggunaan AI chatbot menghasilkan emisi karbon yang bervariasi,tergantung pada kesulitan permintaan pengguna. Membuat Prompt yang cukup kompleks dapat menghasilkan emisi karbon 50x lebih besar daripada membuat prompt yang biasa.
Bagaimana AI Mempengaruhi Lingkungan?
Penerapan AI ber-skala besar dapat menimbulkan beberapa masalah pada lingkungan. Seperti Minkia yang sudah jelaskan diatas, itu adalah contoh betapa sangat besar biaya yang harus dibayar demi kemajuan teknologi. AI dapat menciptakan sebuah limbah elektronik yang jika tidak diperhatikan, akan muncul kerusakan lingkungan yang lebih bahaya.
Meskipun ekonomi digital terkadang dipandang sebagai virtual atau berada diatas awan. Namun penggunaannya memerlukan sumber daya fisik dan bahan baku. Bahan baku yang dimaksud seperti, Perangkat digital, perangkat keras, dan infrastruktur digital yang terbuat dari plastik, kaca, keramik, dan berbagai mineral serta logam.
Data center sangat bergantung pada mineral dan unsur angka lain yang sering kali ditambang secara tidak berkelanjutan. Analoginya seperti membuat sebuah laptop seberat 2 kilogram, tapi bahan baku yang diperlukan sekitar 800 kilogram.
Bisakah AI Menjadi Solusi?
Terlepas pada dampaknya pada lingkungan, AI juga berpotensi mengurangi jejaknya merusak lingkungan. Algoritma AI dapat mengidentifikasi pola dalam data, mendeteksi anomali, serta mengantisipasi dan memprediksi hasil di masa depan. AI juga dapat membantu pemerintah, organisasi, atau individu tertentu untuk memantau perubahan lingkungan dan membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab. AI juga dapat mempercepat inovasi dalam teknologi energi.
Menurut Laporan Kemajuan Teknologi Iklim 2024, dari program lingkungan PBB, AI menjadi semakin penting karena bisa memetakan potensi energi terbaru, optimalisasi efisiensi, dan memfasilitasi interkoneksi dengan sektor lain, seperti air dan pertanian.
Namun, AI belum bisa sepenuhnya menggantikan infrastruktur fisik dan sistem tata kelola yang penting untuk transisi energi. Kerangka kerja tata kelola diperlukan supaya memastikan penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam proyek energi baru.
Nah, lewat kebijakan nasional yang mencakup strategi ekonomi sirkular, kebijakan ini bisa membantu mengurangi permintaan yagn terus meningkat untuk perangkat keras dan infrastruktur TIK. Namun hambatan finansial pasti ada, terutama untuk negara – negara berkembang, yang membatasi solusi keberlanjutan berbasis AI secara luas.
***
BIMBINGAN KONSULTASI BELAJAR ADZKIA
- Bimbel Super Intensif UTBK SNBT
- Bimbel Kedokteran
- Bimbel Persiapan Ujian Mandiri
Jalan Hayam Wuruk No. 15 AB Medan, Sumatera Utara
Mobile Phone Or WhatsApp: 08116714445
