3 SESAT BERPIKIR YANG SERING KAMU TEMUI DI SEKITARMU. APAKAH KAMU TERMASUK KETIGANYA?

Di era teknologi yang tumbuh cepat sekarang, pastinya kamu juga menemukan sajian  informasi yang bermacam macam. mulai dari perdebatan sosial media, lingkungan pertemanan, hingga kata kata dari kolom komentar yang sering ngajak kamu mikir, “apakah argumen mereka benar – benar masuk akal?”.

Sering kali sebuah pernyataan terdengar sangat meyakinkan dan seolah olah benar secara akal atau ilmiah. Padahal di dalamnya tersimpan cacat logika yang harus kamu hindarin demi meluruskan arah pikiran yang objektif.

Nah, memahami cacat logika itu bukan hanya menghindari debat yang berkepanjangan, tapi juga melindungi diri dari manipulasi informasi dan kesimpulan yang keliru. Jadi apa aja sih 3 logical fallacy yang wajib kamu tahu. Yuk simak disini !

Baca Juga : BIMBEL ADZKIA GELAR PENGAJIAN SEKALIGUS PENYERAHAN HADIAH UMROH DAN EMAS BATANGAN

Apa Itu Cacat Logika?

Dilansir dari Wikipedia, cacat logika atau lebih dikenal sebagai logical fallacy adalah kesalahan dalam penalaran yang membuat sebuah argumen menjadi tidak valid, meskipun terlintas terdengar masuk akal, kuat, atau meyakinkan secara psikologis.

Pernah gak kamu mendengar kalimat seperti ini “ kalau kamu tidak setuju dengan kebijakan pemerintah, berarti kamu bukan orang yang nasionalis.” Atau sebuah komentar netizen dari konten media sosial seperti “ kalau murid murid sekarang dibolehin bawa handphone, lama lama mereka bakal lupa gimana caranya nulis, kecanduan game online, terus gimana nasib bangsa ini kedepan.”

Ada puluhan jenis logical fallacy dalam ilmu logika, namun beberapa diantaranya sering kita temui dalam kehidupan sehari hari.

  1. Ad Hominem

Ad Hominem sebagai sesat berfikir (logical fallacy) ketika seseorang menyerang pribadi, karakter, dan latar belakang, atau identitas orang yang menyampaikan argumen, dengan dalih membahas isi argumen atas bukti yang disampaikan.

Pernyataan : “ Para penebang liar telah membabat jutaan hektar tanah masyarakat adat untuk lahan sawit. Perampasan ruang hidup ini menyebabkan masyarakat adat kehilangan tanah leluhur, sumber kehidupan, dan hak atas wilayahnya.”

Jawaban ad hominem : “ Alah, kamu sendiri masih pakai sabun, sampo, dan minyak goreng yang mengandung sawit. Jangan sok peduli lingkungan!”.

Dari statement berikut, ini sebuah bentuk kekeliruan karena selain menyerang pribadi, fakta bahwa seseorang masih menggunakan produk berbahan sawit tidak otomatis membuktikan bahwa penyebaran perusahaan sawit itu keliru.

Selain beban lingkungan yang ditimbulkan konsumen tidak apple to apple dengan beban lingkungan yang ditimbulkan oleh oknum para penebang liar tersebut. Konsumen memakai produk itu hanya bertujuan untuk kelangsungan hidup, sementara para penebang liar merusak seluruh ekosistem yang ada di hutan dan membagikan keuntungan nya pada segelintir orang. Menempatkannya pada satu pemahaman yang sama, adalah bukti ke sesatan berpikir.

  1. Strawman Fallacy

Strawman Fallacy atau lebih dikenal dengan kesesatan berpikir manusia jerami merupakan ketika seseorang melempar argumen dengan mendorong argumen tersebut ke ranah yang lebih ekstrim dan sebetulnya hanya karangannya sendiri.

Penyataan : “ Pemerintah harus membatasi pembukaan lahan sawit agar hutan dan masyarakat adat terlindungi.”

Jawaban Strawman Fallacy : “ Jadi, kamu ingin semua lahan perkebunan sawit ditutup dan para petani kehilangan pekerjaan? “

Bentuk kekeliruan nya adalah, pernyataan diatas tidak menekankan pada penutupan seluruh perkebunan sawit, melainkann usulan pembatasan pembukaan lahan, dan kepedulian terhadap hak hidup para penghuni ekosistem.

  1. False Dilemma

Sebuah cacat logika yang menempatkan suatu persoalan seolah olah hanya ada dua pilihan, hitam atau putih, padahal sebetulnya ada opsi lain.

Pernyataan : Siswa SMA kelas 12 sedang bingung mengambil pilihan setelah tamat, antara kuliah di PTN atau lanjut kerja.

Jawaban False Dilemma : Duh, mending kamu kerja ajadeh selesai sekolah, tamat kuliah kamu juga harus cari kerja dimana mana, syukur dapat, kalau enggak emang mau jadi pengangguran?.”

Bentuk kekeliruan pada statement ini adalah, semua pilihan ditentukan oleh nasib perorangan. Entah dia tamat sekolah lanjut kuliah atau lanjut kerja. Jika dia kuliah, berarti dia punya asa selesai kuliah akan mendapatkan pekerjaan yang lebih matang.

Mengapa Harus Peduli?

Terjebak dalam kesesatan logika bisa berdampak buruk baik dari diri sendiri maupun orang lain. Secara personal, cacat logika membuat kita sering mengambil keputusan yang salah karena didasari oleh asumsi yang keliru. Secara umum, penyebaran argumen yang cacat logika menimbulkan bahan bakar utama bagi hoaks, relasi yang terpecah belah, dan konflik yang tidak berkesudahan.

Berpikir kritis adalah penawar utama dari cacat logika. Sebelum kita menelan bulat bulat sebuah opini atau informasi, pentingnya untuk melatih dri melihat dimana letak permasalahan utamanya. Apakah bukti pendukungnya kuat? Apakah kesimpulannya ditarik dari logika yang valid? Atau kita sedang dikecoh oleh emosi semata?

Kesimpulan

Proses menjadi dewasa emang rumit, tapi jangan ditambah rumitnya dengan sesat pola berpikir. Menjadi pribadi yang kritis bukan berarti kita harus menjadi orang yang gemar mendebati orang, ini tentang melatih pikiran kita agar tidak mudah tersesat oleh argumen yang terlihat hebat, namun rapuh di atas fondasi logika.

Mulai sekarang, kalau denger opini atau argumen yang logika nya agak mencurigakan, pause dulu sebentar. Tanya ke diri sendiri “ini emang beneran fakta, atau aku lagi kena jebakan logika?

***

BIMBINGAN KONSULTASI BELAJAR ADZKIA

  • Bimbel Super Intensif UTBK SNBT
  • Bimbel Kedokteran
  • Bimbel Persiapan Ujian Mandiri

Jalan Hayam Wuruk No. 15 AB Medan, Sumatera Utara

Mobile Phone Or WhatsApp: 08116714445

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted