BIMBEL ADZKIA MEDAN

Praktik Fisiokrat dalam Kedaulatan Pangan Indonesia

Fisiokrat adalah kelompok ekonom yang percaya kalau kemakmuran suatu negara hanya bisa dicapai melalui agrikultur atau pertanian. Sedangkan merkantilisme adalah kelompok yang percaya bahwa kemakmuran dicapai dengan perdagangan, emas dan penguasa.

Indonesia negara kepulauan yang dianugerahi sumber daya alam yang luar biasa sudah semestinya unggul mutlak (absolut advantage) dibidang pangan dan pertanian dengan negara manapun. Bagaimana sejarah perencanaan di Indonesia selama ini.  Sudahkah memberikan porsi perhatian besar terhadap isu sentral ketahanan pangan. Sudah berdaulatkah kita di bidang pangan.

Dalam sejarah perencanaan Indonesia ada berbagai perencanaan jangak pendek, menengah dan panjang. Pada orde lama kita memiliki Plan mengatur Ekonomi Indonesia (1947), Kasimo Plan (1948-1950), Rencana Urgensi Perkembangan Industri dan Industri Kecil (1951-1952), RPLT (1956-1960) Depernas  (1961 – 1969), pada orde Baru Repelita I – VI (1969 – 1999), pada awal reformasi kita memiliki Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2001 – 2005 hingga sampai sekarang di era presiden jokowi menjadikan Nawacita atau 9 prioritas pembangunan lima tahun, masuk sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

Kita masih ingat pada orde lama negara saat menggunakan sistem pemerintahan parlementer dengan  perdana menteri  sebagai kepala pemerintahan. Untuk persoalan pangan diangkat seorang Menteri Persediaan Makanan Rakyat dalam Kabinet Hatta I bernama I.J Kasimo. Ia pernah juga menjabat Menteri Muda Kemakmuran pada periode Kabinet Amir Sjarifoedin.

Kasimo menyusun sebuah perencanaan yang sangat sederhana yang mudah dipahami yang menjawab pertanyaan bagaimana indonesia mencapai swasembada pangan. Konsep yang sangat indentik sepertinya mengikuti mahzab fisiokrat dimana sektor pertanian merupakan sumber kekayaan. Dikenal dengan Kasimo Plan atau Rencana Kasimo (1948 – 1950)

Kasimo Plan mengkombinasikan intensifikasi dan ekstensifikasi yang dipercaya sebagai resep andalan mencapai swasembada pangan.

Menurut Kunarjo, Kasimo Plan melakukan usaha intensifikasi dengan menggunakan bibit unggul, maupun ekstensifikasi di daerah-daerah yang banyak lahan tidurnya.1)  Pemerintah meningkatkan produksi bibit unggul, kebun bibit, perbaikan irigasi dan pemeliharaan kesuburan tanah dalam upaya intensifikasi.

Selain menyarankan menanam jagung dan ketela, usaha meningkatkan produksi ternak dengan mengeluarkan pelarangan menyembelih hewan ternak. Sederhananya hal ini bisa dipahami agar hewan berkembangbiak dan mengusahakan tersedianya kelebihan produksi. Petani diminta untuk menanam kapas untuk memenuhi ketersediaan sandang yang pada waktu itu sulit.

Langkah Kasimo Plan dalam usaha-usaha ektensifikasi adalah membuat kebijakan seperti menanami tanah kosong seluas 281.277 hektar di Sumatera timur dan transmigrasi 20 juta penduduk pulau jawa ke Sumatera dalam jangka 10 – 15 tahun yang bisa dipahami untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan mengolah sumber daya alam.

Jika kita melihat pada masa Orde Baru, Repelita I – IV yang digagas pada saat itu sepertinya terinspirasi dari Teori Pertumbuhan Rostow. Tahapan rostow ada 5 dimulai dari Traditional society, Precondition to take off (prasyarat menuju lepas landas), Take Off (lepas landas), Drive to Maturnity (Kedewasaan) dan terakhir Age of High Mass Consumption (konsumsi massal yang tinggi)2). Pelita I – III menitik beratkan sektor pertanian, bahan baku menuju swasembada pangan yang juga indentik dengan praktik fisiokrat. Pelita IV – V fokus ke industri, mesin industri dan ekspor dan harusnya tahun 1999 pada Pelita VI kita sudah masuk fase take off menuju negara adil dan makmur.

Pada akhirnya Kasimo Plan era orde lama tidak berjalan dengan baik karena RI masih sebagian besar dikuasai Belanda. Dan Pelita era orde baru selesai seiring terbitnya reformasi.  Bagaimana dengan perencanaan di Indonesia era kekinian? sudahkah isu kedaulatan pangan menjadi fokus utama dalam membuat kebijakan atau hanya sekedar ‘jualan’ isu dalam pemilu. Melihat usia reformasi sebentar lagi menuju usia ke- 25 tahun. Seharusnya Indonesia di tahun 2023 sudah menjadi negara besar melihat sejarah perencanaan pembangunan di Indonesia. Bukan lagi ‘menuju’ negara yang berdaulat di bidang pangan yang diulang-ulangi saat pemilihan. Harusnya kita sudah sampai disana (berdaulat)

 

Penulis adalah Pengajar Bidang Studi Ekonomi ADZKIA, Alumni Magister Ilmu Ekonomi USU dan Presiden Mahasiswa USU 2014-2015

————————-

  • Kunarjo, Perencanaan dan Pengendalian Program Pembangunan (Jakarta : Penerbit UI press, 2002), hal 35

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tahap_pertumbuhan_ekonomi_Rostow

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments